Sudah menjadi suatu kewajaran buat setiap manusia untuk mengalami masa jenuh, bosen, suntuk, bisa jadi karena rutinitas setiap hari, karena pekerjaan atau mungkin sedang dihadapkan pada suatu masalah... hehe... yup, manusia butuh refreshing, kembali segar dan semoga setelah segar jadi lebih produktif, atau sebaliknya :p
Akhir bulan kemarin istriku melihat acara tentang wisata di salah satu televisi swasta nasional, dari situlah dia bilang kalau dia pegen liburan ke sana, ke dieng. Sepintas aku tertarik juga, aku yang sudah segede ini juga baru mendengar dieng dari pelajaran SD dulu :D padahal sebenernya ndak terlalu jauh juga dari rumah. Paginya langsung aja aku cari informasi tentang dieng di internet, baik dari asal usul, profil, informasi tujuan wisatanya dan yang pasti adalah jalan menuju ke sana serta akomodasinya :D Setelah "mengenal" dieng kemudian tinggal cari hari dan waktu yang pas, maklum pekerjaan saya tidak menentu jadwalya, jadi mesti pandai pandai mencari waktu. Hingga kami putuskan untuk pergi pas weekend kemarin,
sepulang dari kerja saya langsung bergegas untuk pergi berangkat ke dieng naek motor bro :D extreme nggak sih ? selepas maghrib aku berangkat, tak lupa pamitan dulu ma ortu yang sempet bingung dengan tingkah laku kami yang biasanya jarang pergi.
Motor melaju sedang,
tak terlalu kencang tak pula pelan, untuk route pergi sengaja aku pilih rute yang "aman" meski agak jauh jadinya, tapi tak apalah soalnya perjalanan pada malam hari, mengantisipasi hal - hal yang tidak di inginkan. Sekedar saran nih, kalau mau bepegian jauh naik motor, alangkah sebaiknya dipersiapkan sebaik-baiknya, standard safety riding dan terutama baju hangat dan jas ujan. Masih di daerah sleman ku berhenti di SPBU untuk mengisi bahan bakar motorku biar nanti tidak repot mikir BBM lagi. Perjalanan aku jalani dengan santai, sambil menikmati suasana malam tempat-tempat yang kami lalui, oh iya, kami sempet macet di daerah jumoyo sebelum masuk muntilan, macet karena bencana lahar dingin erupsi gunung merapi kemarin. Nah disini salah satu keuntungan bawa motor, soalnya pas jalan lagi macet si motor masih bisa nyelap nyelip kiri kanan, melihat keadaan waktu itu, seandainya bawa mobil aku yakin bisa macet 2-3 jam di situ, walau sebenernya kasian banget liat istri kedinginan sepanjang jalan, apalagi ketika sekitar pukul 20.30 ketika memasuki wonosobo tiba-tiba hujan datang mengguyur kami, bahkan tanpa hujan pun kondisi angin malam itu sudah sangat dingin menembus jaket kami. Kami pun berhenti sejenak untuk mengenakan jas ujan, itupun jas ponco yang satu buat berdua :( sebuah perjuangan sodara-sodara :p. Setelah sekitar 30 menit berhujan ria akhirnya kami pun dengan sebagian celana basah sampai juga di kota wonosobo :) uh leganya.. Tak terasa perut ini sudah berbunyi minta untuk di isi :D kondisi hujan dan aku yang buta akan kota itu sedikit menyulitkan kami untuk mencari tempat makan yang nyaman, setelah beberapa saat berputar-putar akhirnya kami putuskan untuk beristirahat dan makan di sebuah warung makan, menu utama di tempat makan itu adalah bebek goreng :D hm... hujan-hujan makan bebek goreng minum teh anget... yummy.. sungguh melegakan... :D
Sayang sekali aku lupa mencatat alamat warung itu, padahal aku mau rekomendasikan buat temen2 yang kebetulan lewat atau mau main ke wonosobo. Penjualnya juga ramah, sopan dan baik, bahkan kami sempat ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu hujan reda, dia juga ngasih referensi tempat penginapan di kota itu. Akhirnya setelah sekitar 1 jam kami istirahat dan kebetulan hujan sudah reda, kami berpamitan untuk mencari tempat untuk menginap, karena memang rencana dari awal adalah bermalam di wonosobo untuk pagi harinya baru melanjutkan perjalanan ke dieng. Sekedar informasi jarak dari wonosobo-dieng sekitar 25km dan ditempuh kurang lebih 1 jam. Di salah satu sudut kota itu akhirnya kami menemukan sebuah hotel kelas melati dengan harga sewa yang sangat bersahabat, cukup dengan Rp. 65.000 kita bisa bermalam di hotel itu, cukup nyaman dan bersih walau tidak bisa dibandingkan dengan hotel berbintang. :D
Sekitar pukul 06.00 pagi hari kami berang meninggalkan hotel itu, berputar-putar di jalanan kota wonosobo, aku baru ingat hari itu hari minggu ketika kudapati alun-alun kota itu ramai dengan orang jogging dan nongkrong, banyak juga kakilima yang menjajakan makanan di tempat itu, kebetulan belum makan sepertinya asik juga cucimata sambil makan batagor + bubur ayam, komplit lah menu yang ditawarkan, tinggal mau pilih gerobak yang mana :D
Kota Wonosobo kota yang bersih, rapi dan dingin tentunya, meski aku juga belum mengelilingi ke seluruh kota sih. :D setelah perut kami isi kami pun bergegas melanjutkan perjalanan ke dieng, karena jika terlalu siang takut berkabut dan hujan. Perjalanan dari wonosobo ke dieng cukup lancar, kondisi jalan juga mulus meski agak sempit, menanjak dan berkelak-kelok, anda akan di suguhi pemandangan yang memanjakan mata di sepanjang jalan, dikanan gunung di kiri gunung, suhu udara yang dingin semakin menambah kesejukan, para petani yang pergi ke kebun, rata rata petani disini berkebun kubis dan kentang. Hampir sebagian besar kebun di sini ditanami dengan kedua macam sayur tadi. Semakin ke atas semakin dingin udaranya, bahkan ada beberapa tempat yang berkabut sehingga jarak pandang menjadi berkurang, jadi mesti ekstra hati-hati dan jangan lupa untuk menyalakan lampu :)
![]() |
| Salah satu pemandangan di pinggir jalan dari wonosobo ke dieng |
Setelah sekitar 1 jam kami berjalan, akhirnya kami sampai juga di tujuan yang pertama, yaitu telaga warna, disini terdapat telaga yang berwarna dikarenakan air ditelaga ini tercampur dengan belerang, kemudian adanya ganggang di dasar telaga juga memberikan warna merah, konon telaga ini adalah sebuah kawah yang meletus ribuan tahun lalu, selain telaga warna ada juga telaga pengilon (cermin) yaitu telaga yang sangat jernih sehingga layaknya cermin, namun ketika saya di sana saya temukan telaga pengilon penuh dengan rumput, jadi tidak bisa buat bercermin lagi deh :( kemudian selain telaga di tempat ini terdapat juga gua gua tempat bersemedi orang jaman dahulu, ada gua jaran (kuda), gua sumur dan gua semar, selain itu terdapat juga sebuah batu tulis (batu semar) katanya jika ingin anaknya pinter nulis maka orang tua bisa berdo'a di batu tulis ini, selain itu di batu tulis ini tempat diadakannya ruwatan gimbal masyarakat setempat.
![]() |
| Pemandangan di telaga warna |
Puas berjalan melihat telaga warna dan gua kami melanjutkan perjalan ke tujuan ke dua yaitu kawah sikidang. Kidang = kijang, dinamakan kidang karena dalam kawah ini uap panasnya berpindah-pindah dan kadang meloncat seperti kidang, namun ada juga legenda yang berlaku di masyarakat setempat yang menceritakan tentang asal-usul terjadinya kawah sikidang yang berhubungan dengan adanya anak yang berambut gembel di daerah tersebut, sebenernya ada beberapa kawah yang ada di daerah ini, ada kawah candradimuka, sileri, sinila dan beberapa lagi, namun diantara kawah tersebut terdapat kawah yang bestatus aktif dan berbahaya. Jika anda ingin pergi berwisata ke kawah ini sebaiknya anda memakai masker mengingat bau belerang yang sangat menyengat.
![]() |
| Kawah si kidang |
Setelah melihat kawah sikidang tadi... kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya ya itu komplek candi arjuna, yang kurang lebih bisa di tempuh dalam waktu 5-10 menit dari kawah si kidang itu, memang dekat... komplek ini merupakan salah satu dari delapan komplek candi yang ada di daerah ini, dan mungkin satu satunya yang bisa kita lihat, meski keadaan sekarang sangat memprihatinkan, kondisi candi sudah tidak utuh lagi, bahkan di beberapa bagian terdapat retak. Semoga saja pemerintah bisa melestarikan situs warisan budaya yang sangat bernilai ini.
![]() |
| Komplek Candi Arjuna |
![]() |
| Candi Arjuna |
Setelah capek muter candi dan ber poto ria kami beristirahat sejenak sambil minum kopi, sedang istri malah lebih milih wedang rondhe :D maklum suhu udara di sana memang dingin, di seberang pintu masuk komplek candi terdapat sebuah museum, museum kailasa (gunung tempat tinggal Dewa Siwa) namanya. Museum ite memiliki koleksi purbakala, bagian bagian candi beserta nama dan keterangannya terdapat di museum itu. Jadi untuk menambah wawasan tentang candi ada baiknya kita main di museum itu.
Waktu beranjak siang, sekitar pukul 10 pagi kami beranjak meninggalkan komplek candi arjuna, kami sepakat untuk langsung menuju arah pulang, kami melaju menuruni dataran tinggi dieng menuju kota wonosobo, masih disuguhi pemandangan indah di kanan kiri kita :) sungguh menunjukkan ke Agungan Allah SWT. Allah menciptakan alam yang begitu indah, tapi kadang manusia dengan tamaknya merusak demi kepentingan perutnya, jika alam sudah murka... maka manusia pula yang mendapat dampaknya.
![]() |
| Gapura Dataran Tinggi Dieng |
Perjalanan pulang kami tempuh dengan santai, rute yang kami ambil pun berbeda dengan rute keberangkatan, kami memilih untuk lewat sapuran, karena memang untuk arah ke jogja, magelang atau purworejo lebih cepat apabila melewati rute ini, cuma rute ini masih sepi jadi lebih baik kita lewat sini jika hari siang. Memang terbukti lebih cepat, tak sampai 3 jam kami sudah tiba di magelang, kebetulan ada teman kerja yang bertempat tinggal magelang, kami berniat singgah melepas lelah sekaligus silaturahmi.
![]() |
| Borobudur |
![]() |
| Sisi lain Borobudur |
Tak lengkap jika kita sudah sampai di magelang namun tidak main ke candi Borobudur. Akhirnya setelah matahari sedikit turun, kami pergi ke candi borobudur, candi yang sangat megah, di sisinnya penuh dengan relief yang bercerita. Di komplek candi ini juga terdapat sebuah museum bahari, museum ini menceritakan tentang nenek moyang kita yang pandai melaut. Perdagangan jaman dulu yang dilakukan dengna transportasi laut.. dan koleksi andalan di museum ini adalah sebuah replika kapal yang terisnspirasi dari relief di candi borobudur yang kemudia direalisasikan untuk menjadi sebuah kapal, yaitu kapal Samuderaraksa (pelindung samudra) kapal ini sudah berlayar hinggal ke madagaskar afrika sebelum di museumkan di museum ini.
![]() |
| Relief kapal bercadik |









0 komentar:
Posting Komentar