AlhamdulilLahirobbil’alamin.. segala puji bagi Allah pencipta semesta, segala puja puji aku panjatkan kehadiratmu ya Allah. Engkau telah kabulkan do’a kami selama ini, satu lagi bukti kebesaran-Mu, nikmat yang Engkau berikan tak kan terbalaskan. Setelah beberapa waktu kami menikah, akhirnya hadir juga momongan buat kami berdua, hadirnya sang buah hati yang telah lama kami tunggu, tepatnya tanggal 23 mei 2012 kemarin. Sedikit bercerita, hari Minggu kemarin saya bersama istri masih sempat untuk jalan - jalan seputar kota sekedar melepas penat. Bermotor kami berkeliling kota Jogja, sempat pula kami singgah di Tamansari dan berjalan-jalan disana. Hingga pada selasa dini hari kira kira pukul 02.00 istri saya mengeluhkan perutnya yang terasa sakit, pada awalnya aku merasa “ah itu paling sakit biasa yang dirasakan wanita hamil” saya belum juga ngerasa panic atau apapun. Namun saat itu istri ku masih saja mengeluh sampai subuh tiba, hingga aku putuskan untuk membawa ke klinik tempat kami biasa memeriksakan kandungan istri saya. Kurang lebih pukul 07.00 pagi kami sudah berada di sebuah Rumah Sakit khusus di daerah babarsari, sampai di sana istri saya langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk pemeriksaan lebih lanjut, seorang dokter perempuan berjilbab memeriksa kehamilan istriku, kami berdua harap – harap cemas akan hasil pemeriksaan, pikiran berkecamuk tak tentu arah di hadapan kami, apakah karena kecapean naik motor kemaren hingga terjadi hal ini.. ? sekitar 30 menit kami menunggu pemeriksaan dokter itu, dokter mengatakan kalo istri saya harus tinggal / menginap di RS tersebut karena sudah ada tanda – tanda melahirkan. Senang, kaget, shock, panic dan terharu tercampur di hati kami, mata kami pun sesaat saling berpandangan di sebuah bangsal yang terpisahkan tirai di ruangan itu. Aku mencoba merasakan apa yang istriku rasakan.. Ya Allah benarkah anak kami akan segera hadir.. ? ya Allah berikanlah kelancaran persalinannya, kesehatan bagi anak dan istri saya.. begitu banyak yang berkecamuk di otakku saat itu, aku yakin begitupun dengan istriku. Namun apapun itu aku serahkan kembali padaMu ya Allah, aku kan menerima apapun kehendakMu, karena dariMulah yang terbaik bagi umatMu. Semua aku pasrahkan padaMu ya Allah.
Setelah selesai mengisi formulir pendaftaran pasien istriku di pindah ke sebuah ruangan sementara sembari menunggu ruangan istriku di persiapkan. Di ruangan tersebut kami masih seakan tak percaya akan yang terjadi saat itu. Ya istri saya akan melahirkan… tak lama lagi kami akan menjadi orang tua.. kami memberikan kabar kepada orang tua dan saudara-saudara kami sambil memohon do’a untuk kelancaran persalinan nanti. Sebelumnya kami berdua sempat mempunyai rencana untuk melakukan proses persalinan di kota kami Klaten, mengingat kebanyakan keluarga kami tinggal di kota tersebut, sehingga mereka lebih mudah untuk memantau perkembangan kami. Namun rupanya Allah berkehendak lain.
Aku pulang untuk mengambil perlengkapan melahirkan,
beberapa kain jawa (jarik) dan pakaian ganti untuk istriku aku ambil dari kost, hari selasa siang siap dzuhur aku kembali ke RS untuk menemani istriku. Saat itu istilah dokter masih “bukaan Pertama” awalnya aku masih belum ngeh juga soal itu, namun yang aku tau ada 10 tahap pembukaan seseorang yang akan melahirkan. Kami berpikir kalo mungkin masih besok siang anak kami lahir, jadi saya mengabari orang tua kami untuk tidak terburu-buru datang menjenguk kami, mengingat jarak rumah kami dengan RS yang lumayan jauh. Tak lama kemudian istri saya di pindahkan ke ruangan yang telah kami pesan, ruangan kelas II di RS tersebut, sebuah ruangan dengan dua ranjang untuk pasien yang dipisahkan oleh selembar tirai kain. Ketika kami datang ke ruangan tersebut kami dapati ranjang sebelah kosong namun terdapat barang – barang layaknya pasien di rumah sakit, ada parcel buah-buahan, air mineral dalam kemasan, roti dan sebagainya, aku pikir mungkin pasien ini sedang di ruangan operasi atau tindakan. Kami menunggu sesuatu yang masih belum kami tau, yang kami tau saat itu istri saya baru memasuki bukaan ke dua, kakak perempuanku mengirim pesan kalau bukaan ke 2 sampai melahirkan itu kadang masih butuh waktu lama, bahkan kalo di bidan disuruh balik ke rumah dulu. Kami yang belum berpengalaman masih bingung dengan apa – apa yang bakal kami temui ke depan. Hingga tak terasa hari menjelang sore telah tiba. Ada beberapa kalo suster memeriksa tekanan darah dan menghitung denyut jantung anak kami. Sore hari bapak ibu dan kakak dari Klaten datang ke RS menjenguk istriku, mungkin memang orang tua selalu begitu, mengkhawatirkan keadaan anak, hingga mereka datang untuk memastikan semuanya baik – baik aja, aku kabarkan ke mereka kronologi dari kemarin hingga saat itu. Ibu memaksa untuk tinggal di RS menemani kami, namun saya menolaknya mengingat menurut perkiraan saya proses persalinan masih lama dan tidak ada tempat beristirahat untuk ibu nanti. Setelah aku bujuk akhirnya ibu mau juga untuk kembali pulang ke rumah klaten sambil menunggu kabar perkembabgan dariku yang di RS. Selepas maghrib mereka kembali ke Klaten, sedikit banyak aku tau dan mencoba tau apa yang mereka rasakan. Sekitar pukul 19.00 selepas isya’ datang seorang suster bersergam warna hijau muda ke ruangan tempat istri saya di rawat, dia mengatakan bahwa akan dilakukan tindakan induksi (pacu) pada istri saya karena sudah sampai pada waktu yang ditentukan tidak ada perkembangan pembukaan seperti yang diharapkan. Akupun menandai surat persetujuan tindakan “pemacuan” tersebut, tak lama istri saya dibawa ke ruang tindakan, dan aku pun menemaninya, karena dalam hatiku aku berjanji untuk selalu berada di samping istriku dalam masa persalinan ini. Aku tak tega untuk meninggalkan istriku sendiri menghadapi semua ini.
Pukul 19.00 lebih kami sudah masuk di sebuah bangsal dengan 3 bilik yang terpisahkan oleh tirai berwarna krem, di setiap bilik terdapa ranjang kusus berwana putih dengan busa hitam dan di sebelah kanan kirinya terdapat semacam alat berbentuk sadel sepeda "ontel", yah ternyata alat itu adalah untuk menyangga kaki dari pasien yang akan melahirkan. Kami mendapat bilik nomer 1, bilik paling ujung di bangsal itu, ketika kami datang di 2 bilik yang lain sudah terisi oleh pasien pasien yang akan melahirkan, bahkan di bilik nomer 2 sudah akan dilakukan proses persalinan, karena ada seorang suster yang mengatakan pada saya untuk tidak boleh keluar masuk karena di sebelah sedang dilakukan proses persalinan. Begitu sampai di bilik tersebut istriku langsung diberikan injeksi dan semacam obat hisap, kata perawat itu adalah obat pemacu. Setelah diberikan obat tersebut kami menunggu reaksi obat tersebut, karena ternyata membutuhkan waktu untuk obat tersebut bereaksi. Sembari menunggu kami tanpa sengaja mendengarkan proses persalinan di bilik sebelah, suara dokter, suster dan sang pasien yang sedang berusaha bersama dalam menyambut datangnya seorang bayi ke dunia ini. Saat itu aku merasakan gemetar dan pikiran seakan melayang, mengapa masih ada saja anak yang berbuat tidak baik dengan seorang ibu, ibu yang bersusah payah mengandung selama berbulan-bulan, ibu yang mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan. Aku makin miris ketika teringat berita di tv tentang aborsi dan anak yang di buang serta di telantarkan orang tuanya disaat orang lain bersusah payah untuk memiliki seorang momongan… !!
Setelah beberapa saat akhirnya pasien sebelah berhasil melahirkan, berubahlah situasi tegang yang selama persalinan tadi menjadi mencair penuh canda tawa suka ceria, sementara kami masih menunggu dan berharap-harap cemas, mungkin seperti halnya pasien di bilik nomer 3. Kami masih menunggu dan menunggu, seakan waktu berjalan begitu lama, ingin segera kudapati pagi hari dengan hati gembira, beberapa kali suster datang untuk memeriksa kondisi istri saya dan bayi dalam kandungan. Istriku mengeluh kesakitan dan semakin sakit. Beberapa kali dia mengeluh bahwa dia tidak mampu untuk melanjutkan, dan beberapa kali dia berteriak histeris untuk meminta di Caesar aja atau kalau ada jalan lain. Sedikit membuatku panic memang, aku pun mengerti dan memahami apa yang istriku rasakan, namun aku selalu memberikan motovasi, semangat pada dia untuk terus berusaha, begitupun dengan para suster di ruangan tersebut. Kalo mengingatnya aku sungguh merasakan, bahwa menjadi seorang ibu adalah hebat.. istriku semakin menjadi dalam merasakan sakitnya. Beberapa kali dia berteriak histeris. Waktu berjalan terasa lama, pukul 23.00 suster bilang pada kami kalo sudah bukaan 8, sedikit membuatku tenang, aku berharap proses ini akan cepat selesai dan selamat semuanya. Istriku kian menjadi mengeluh menjerit kesakitan, tak lama kemudian suster menghubungi dokter yang akan memimpin persalinan, skitar beberapa lama kemudian dr. Okta yang biasa memeriksa kehamilan istriku datang juga, hatiku kian kuat, ntah kenapa begitu dokter datang aku merasa kalo proses melahirkan ini akan beres. Setelah beberapa jam terlewati akhirnya pukul 00.27 lahirlah anak pertama ku, dengan berat badan 2750 gr, panjang 45 cm, sungguh aku tak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan waktu itu, bahagia, bersyukur, sungguh indah, terimakasih Tuhan atas anugrah terindah ini.
Setelah selesai proses melahirkan dan ari – ari sudah keluar, ternyata istriku harus mendapatkan bebarapa jahitan, mungkin itu wajar dialami wanita yang siap melahirkan, anakku yang sudah dibersihkan di berikan kepada istriku untuk dilakukan proses Inisiasi Menyusui DIni atau IMD. Sungguh keajaiban telah terjadi dihadapanku, di depan mata kepalaku sendiri, makhluk kecil itu sungguh suatu bukti kebersaran Tuhan. Aku berjanji akan merawat, menjaga dan mengasuh titipan-Mu sebaik-baiknya ya Allah.. berikan aku kekuatan dan bimbingan-Mu. Tak lupa ku kumandangkan Adzan dan Iqomat di ke dua telinga putra kami. semoga kelak besar menjadi anak yang sholeh.. aamiin Ya Robbal'alamin.
Setelah semua proses terlewati istriku pun dipindahkan ke ruangan rawat, namun si adek mesti di bawa ke ruangan bayi. Berapa kali aku bertanya pada suster apakah anak saya sehat ? dan suster pun menjawab kalo anak kami sehat. Istriku dua hari menginap di RS tersebut, kamis pagi kami sudah mendapatkan ijin untuk pulang kerumah kami, pagi itu juga kami menyelesaikan administrasi untuk kemudian pulang di siang hari, bapak ibuk, kakak dan keluarga dari klaten menjemput, sementara aku pulang sendiri dengan motor bebeku, rasa kantuk capek lelah bercampur aduk jadi satu, mungkin karena sudah beberapa hari ini aku kurang tidur dan kurang istirahat, namun di sisi lain kebahagiaan yang tak ternilai aku rasakan seakan menghapus semua lelah dan kantukku, Terimakasih ya Allah.. J mungkin ini jawaban dari Mu ya Allah, bebarapa bulan yang lalu pakde kakak dari ibu ku meninggal dunia di lampung, kemudian beberapa hari yang lalu adik perempuan ayahku pun engkau panggil untuk selama-lamanya, namun kemudian Engkau ganti kami dengan lahirnya anak perempuan dari kakakku dan anak lekaki pertamaku, sungguh rahasiaMu indah ya Allah.. Semua memang menjadi misterimu ya Allah.. dari caraMu mempertemukan kami.. mengikat kami dalam jalinan suci do'a - do'a kami Subhanallah.. Maha suci Allah...

0 komentar:
Posting Komentar