Sabtu, November 13, 2010

Merapi Tak Ingkar Janji

Erupsi lahar panas
Tak terasa sudah seminggu lebih kami sekeluarga mesti tinggal di pengungsian dan berpindah-pindah dari tempat satu ketempat yang lain sebelum sampai di pengungsian yang sekarang ini untuk menghindari erupsi merapi. Pada letusan ke dua tanggal 5 nopember 2010 keadaan rumah kami yang berjarak -+ 11Km dari puncak merapi begitu jelas gemuruh dan getaran yang berasal dari puncak gunung merapi. Padahal seumur hidupku belum pernah merapi begitu kuat seperti sekarang, pun dengan masyarakat sekitar kami, bahkan desa kami biasanya dijadikan tempat/posko pengungsian apabila merapi sedang beraktivitas. Namun rupanya kali ini merapi "berkehendak" lain, merapi menunjukan betapa kuatnya alam jika sedang murka, guguran material yang menimbulkan suara gemuruh yang sangat keras terdengar di kampung kami, bahkan terdengar sampai jarak 30 Km dari puncak merapi, awan panas yang keluar dari mulut merapi mempunyai kecepatan -= 100 km/jam bersuhu 400-600 drajat celcius siap meluluhlantahkan semua yang dilaluinya, tak peduli apapun itu, tanpa terkecuali.

Malam itu sekitar pukul 23.30 ketika kami semua sedang bingung kalut dengan keadaan merapi yang semakin tidak menentu, antara mengungsi dan bertahan dirumah kami, namun rupanya suara gemuruh itu membuat nyali kami semua keder, akhirnya kami sekampung sepakat untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, rumah family kami yang berjarak -+ 15 Km dari puncak menjadi tujuan kami, namun tak lama kami disana, karena pukul 03.00 pagi himbauan dari tim SAR dan pemerintah untuk meningkatkan Kawasan Rawan Bencana (KRB) menjadi 20Km, kami yang saat itu berada di jarak 15 Km akhirnya harus pindah ke family kami yang semakin jauh dari puncak. Aku inget kala itu adzan subuh terngiang ketika kami sampai di pengungsian ke dua di kota klaten, mobil yang kami tumpangi tertutup oleh abu merapi yang masih saja mengguyur bercampur dengan rintik hujan, begitupun dengan baju kami, rambut dan semuanya, rasa lelah fisik maupun psikis masih terasa, tergambar jelas wajah-wajah ketakutan kami. Malam itu kami tak pernah bisa benar-benar tidur mesti mata terpejam, bayangan mengerikan selalu saja mendatangi kami.


Luncuran awan panas (wedus gembel)
Pagi hari kami memutuskan untuk pulang kerumah karena kami pikir kondisi sudah lebih aman, namun belum sampai kami dirumah sudah ketemu dengan seorang family yang memberitahu kami bahwa kondisi semakin rawan dan semua warga desa harus mengungsi. Sebentar kami pulang untuk mengambil bekal dan obat bapak yang semalam tertinggal untuk kemudian kami menuju ke rumah adik dari ibu di daerah potro (18Km) untuk mengungsi. 2 malam kami tinggal disana sampai saat ternyata bahwa kampung tempat kami mengungsi akhirnya juga harus di steril karena masih masuk KRB. Kalikotes adalah tujuan ketiga untuk keluarga kami mengungsi, sebuah daerah di sebelah selatan kota klaten, berjarak -+ 30 Km dari puncak, sampai disana ternyata sudah ada family yang sudah mengungsi lebih dulu. Sebuah perumahan sederhana yang sebagian rumahnya tidak/belum ditempati yang kami jadikan tempat untuk mengungsi. 5 rumah yang ditinggali sekitar 30 orang yang masih berkerabat. Mungkin lebih tepatnya "bedhol deso" karena yang tinggal disitu adalah tetangga dan masih family semua.
Setelah beberapa hari akhirnya rasa bosan, suntuk dan begitu banyak pikiran menggelayuti kami, belum lagi kondisi kesehatan bapak yang menurun semakin melelngkapi cerita kami ini, ingin segera pulang kerumah untuk sekedar melihat keadaan rumah pasca ditinggal mengungsi, namun merapi tampaknya belum "mengijinkan" kami untuk pulang, setiap hari masih saja nampak kepulan asap putih kadang berubah abu-abu yang tinggi membumbung menanti kemana angin akan menerbangkannya.

Tak terasa cobaan ini sudah berlangsung seminggu lebih. Penat merasuki pikiran, entah kapan kehidupan kami menjadi normal kembali, kehidupan di pengungsian memang tak pernah senyaman di rumah sendiri. Masih beruntung bagiku karena mendapatkan tempat pengungsian yang layak, seendaknya tidak begitu rame, kadang terlintas dibenaku akan penderitaan yang dialami para pengungsi di barak-barak pengungsian itu, yang mesti antri untuk sekedar buang air kecil karena terbatasnya sarana MCK, belum lagi tempat yang terlalu sempit sehingga mesti bedesak-desakan untuk sekedar meluruskan kaki, anak-anak kecil yang tidak bisa tidur dengan nyaman, tak heran jika kemaren aku dengar kabar ada sekitar 200 pengungsi yang didiagnosa mengalami gangguan jiwa sehingga mesti dirawat di RSJ. Semakin aku heran di saat kami mengalami musibah ini ternyata masih ada saja pihak yang memanfaatkan keadaan hanya untuk kepentingan pribadi masing-masing, entah yang ngumpulin bantuanlah, inilah, itulah, bahkan sampai dibela-belain beradu mulut dengan sesama pengungsi yang senasib dan sama sama mengalami musibah ini... sungguh... ternyata peristiwa ini tidak pernah menyadarkan dan tidak pernah membuka mata mereka, ternyata mereka masih saja belum bisa mengambil hikmah positif dari semua kejadian ini.

Salah satu potret keganasan merapi
Tempo hari bapak mesti dibawa ke RS sakit karena kondisinya, hasil lab menunjukan bahwa HB (Hemoglobin) dalam tubuh bapak sangat kurang, yaitu 5 dari 12-14 bagi kondisi normal. Beberapa macam obat diberikan oleh dokter untuk bapak, namun ternyata sampai dirumah kondisi bapak tak kunjung membaik, aku baca di internet dan aku menemukan disebuah forum kesehatan bahwa solusi untuk HB rendah ada dengan transfusi darah, dan akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk pagi ini melakukan tranfusi, saat aku menulis inipun mungkin bapak dan keluargaku yang lain masih di RS untuk mengurusnya.

Aku yakin Allah SWT. selalu mempunyai rencana di balik sebuah peristiwa, bukankah semua peristiwa di dunia ini selalu bisa kita petik hikmahnya, aku tidak ingin berburuk sangka pada-Nya atas semua ini, Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak. Semoga cobaan ini cepat berakhir, do'aku agar korban atas bencana merapi ini dapat diterima disisi-Nya dengan tenang, untuk keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan tawakal dalam melanjutkan kehidupan lagi... amin...

0 komentar:

Posting Komentar