Rabu, Mei 04, 2011

Review : Negeri 5 Menara


"Man jadda wajada" sebuah mantra yang masih terngiang-ngiang hingga sekarang setelah saya selesai membaca sebuah novel yang "heboh" tahun lalu. Tapi bersyukur juga saya bisa membacanya. Novel karangan A.Fuadi ini bercerita tentang kisah hidup seorang anak lulusan SMP yang mempunyai impian untuk melanjutkan SMA dan bercita-cita menjadi Habibie. Sebuah cita-cita yang tinggi. Namun sayang sang ibunda mempunyai keinginan lain, beliau ingin "memberikan" anaknya untuk agama karena prihatin dengan akhlak pemimpin pada waktu itu yang masih dinilai kurang dalam ilmu agama. Kebetulan kampung mereka dekat dengan kampung kelahiran Buya Hamka, seorang ulama terkenal pada masanya, mungkin hal ini juga sedikit banyak mempengaruhi keinginan sang ibu yang mempunyai sifat idealis. Setelah mengalami pertentangan batin akhirnya "Alif" sang anak dengan setengah hati menyanggupi keinginan ibunda namun dengan syarat dia mau mencari ilmu di pulau jawa hasil rekomendasi sang paman yang sedang berada di Mesir.

Cerita mulai menarik ketika "Alif" mulai menceritakan tentang kehidupan di pondok. Disini pula dia menemukan "Menara Lain" atau "Shahibul Menara" (pemilik menara) yaitu teman baru di pondok yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Raja, Baso, Atang, Said dan Dulmajid. Mereka sering berkumpul dan bermimpi dibawah menara sambil menikmati awan yang berarak. Cerita tetang persahabatan dan persaudaraan sejati dalam menjalani hari demi hari di pondok.
Dalam novel ini akan dibukakan kepada pembaca tentang kehidupan di pondok yang ternyata sangat menakjubkan, kedisiplinan, keikhlasan hati, kerja keras dan masih banyak pelajaran lain yang bisa kita petik dari novel ini.

Cerita tentang Baso paling menyentuh hati saya. Baso adalah seorang kutu buku, waktunya adalah untuk belajar dan belajar, dia adalah patokan atau referrensi bagi menara lain ketika memasuki musim ujian. Sayang Baso tidak bisa menamatkan pendidikan di pondok, ternyata Baso adalah seorang Yatim Piatu sejak dari kecil, dia hanya mempunyai poto usang orang tuanya, selama ini dia hidup dengan nenek yang sudah tua dan kondisi nenek Baso adalah salah satu faktor yang memaksa Baso untuk pulang kampung di Sulawesi, salain itu Baso pulang karena dia tidak bisa menghafal Al - Qur'an dengan cepat di pondok, dia butuh tempat yang lebih tenang untuk menghafal dan tempat itu bukan di pondok, dan hal yang sangat menyentuh ialah, motivasi Baso mengahafal Al-Qur'an adalah untuk berbakti kepada orang tuanya, karena dia pernah mebaca hadis yang kurang lebih isinya jika seorang anak sanggup menghafal Al-Qur'an maka itu adalah jubah dunia akhirat bagi orang tuanya. Sungguh sangat menarik cerita yang disampaikan novel ini.

Diakhir novel menceritakan tentang Alif dan para shahibul menara yang menamatkan pendidikan di pondok, akhirnya mereka harus berpisah untuk berjuang mewujudkan mimpi mereka masing-masing. Sungguh novel yang sarat dengan pelajaran, motivasi dan inspirasi.

0 komentar:

Posting Komentar